ASSALAMU'ALAIKUM WR. SELAMAT DATANG DI BLOG WINNER1COMMUNITY
Tampilkan postingan dengan label TELADAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TELADAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Februari 2013

Rasulullah dan Seorang Badui

Anas bin Malik ra. Berkata : “Ketika Nabi Muhammad SAW memasuki rumah Siti Fatimah, disaat itu pula Fatimah mengadu bahwa dirinya sedang dalam keadaan lapar.  Karena sudah 3 hari mereka belum makan.

Maka dengan rasa terharu perut beliau ditampakkan, yang saat itu digantungi dengan batu keras dan diikat pada perut beliau.

“Fatimah,” sabda beliau,”Jika engkau 3 hari tidak makan, maka ayahmu sudah 4 hari.”

Kemudian, beliau keluar dari rumah itu sambil berkata, “Kasihan, Hasan dan Husain sangat lapar.”  Beliau terus melanjutkan perjalanan, hingga sampai keluar kota Madinah.  Kemudian langkah beliau terhenti ketika melihat orang Badui yang menimba air di sebuah sumur.  Sedangkan ia tidak tahu bahwa yang berhenti itu adalah Rasulullah.

Jumat, 01 Februari 2013

Seperti Berlayar di Lautan

Ada suatu cerita tentang seorang nenek tua.  Dia punya anak banyak, hampir semuanya menjadi orang besar.  Dan sebagai balas budi kepada orang tuanya, mereka sepakat memberikan kemewahan bagi ibunya.  Dibuatkan sebuah gedung besar, diisi perabotan lengkap, disediakan mobil mewah beserta sopirnya.  Uang, belanja setiap bulan tidak kekurangan, bahkan berlebihan.

Tetapi nenek itu makin lama semakin kurus, sakit-sakitan.  Dia sendirian, menyepi dengan seekor kucing peliharaannya.  Pada suatu hari, nenek tua itu minta kepada sopirnya untuk diantarkan ke villa yang diberikan anaknya di Puncak.  Sopir heran karena waktu itu hari sudah jauh malam.  Namun, terlaksana juga perjalanan itu dengan selamat.

Sampai di Puncak si sopir disuruhnya pulang.  Dan ketika mobil itu sudah jauh menghilang, nenek kaya itu menggendong kucingnya, menuju ke pinggir jurang dengan langkah sempoyongan.  Di sana ia menerjunkan diri ke bawah, setelah memejamkan mata dan menangis dalam cucuran air matanya yang deras.  Nenek itu mati bersama kucingnya yang setia.

Kita tidak perduli apakah cerita ini benar-benar terjadi ataukah sekedar khayalan seorang pengarang.  Cuma yang jelas, di antara kepinngan-kepingan tubuhnya ditemukan sepucuk surat yang ditujukan kepada anak-anaknya.  Surat itu berbunyi :

Kamis, 31 Januari 2013

Menunda Kebahagiaan

Sungguh susah nasib seorang hamba Allah berbangsa Bani Israil yang hidupya terlantar.  Karena kesusahannya itu, ia mendatangai padang pasir untuk beribadah disana demi memohon belas kasih Allah SWT, serta mengharapkan anugerah dari NYA.

Pada suatu hari ketika ia sedang berdo’a terdengarlah suara :
“Wahai hamba Allah! Ulurkan tanganmu dan ambillah barang yang ada ditanganmu itu!”

Sabtu, 05 Januari 2013

Mangkuk yang cantik, madu dan sehelai rambut


Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan 'Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap

Jumat, 04 Januari 2013

Andaikata lebih panjang


Seperti yang telah biasa dilakukannya, ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia, Rasulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan.  Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakkal menerima musibah itu.

Kemudian Rasulullah bertanya, “Tidakkah
almarhum mempunyai wasiat sebelum wafatnya?”
Isterinya menjawab, “Saya mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal.”

“Apa yang dikatakannya?”

“Saya tidak tahu, ya Rasulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut.  Cuma, ucapannya memang sulit difahami lantaran kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah.

Isteri yang setia itu menjawab, “Suami saya mengatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi…..Andaikata yang masih baru…..Andaikata semuanya….’ Hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya.  Apakah perkataan-perkataan itu hanya igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”

Rasulullah tersenyum, “Sungguh, yang diucapkannya itu tidak keliru, “ ujarnya.  “Kisahnya begini.  Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke mesjid untuk melaksanakan shalat jum’at.  Di tengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama.  Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun.  Maka suamimu yang menuntunnya hingga tiba di masjid.  Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal salehnya itu.  Lalu ia berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi’.  Maksudnya, andaikata jalan ke masjid lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.”

“Ucapan lainnya, ya Rasulullah?” Tanya sang isteri mulai tertarik.

Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain.  Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan.  Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya.  Maka ia mencopot mantelnya yang lama dan diberikannya kepada lelaki tersebut.  Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.  Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia menyesal dan berkata, ‘Coba, andaikata yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukannya mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi’.  Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

“Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah?”

Dengan sabar Nabi menjelaskan, “Ingatkah kamu, pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan?  Engkau segera menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging dan mentega.  Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan.  Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikannya kepada musafir itu.  Dengan demikian, pada waktu suamimmu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalnya itu.  Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separuh.”

Memang beginilah keadilan Tuhan.  Pada hakikatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain.  Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah.  Sama halnya jika kita berbuat buruk.  Akibatnya juga akan menimpa diri kita sendiri.  Karena itu Allah mengingatkan.

“Kalau kamu berbuat baik, sebenarnnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.  Dan jika kamu berbuat buruk berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula” (QS. Al Israa’ : 7)

Dan Rasulullah SAW bersabda :


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada sesama manusia.”

Kumpulan Kisah Teladan - KH. Abdurrahman Arroisyi

Bukan pada tempatnya

Termasuk dzalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.  Misalnya sapu diletakkan dalam lemari pakaian.  Atau memakai dasi tetapi tidak memakai baju.

Adil bukanlah berarti sama rasa sama rata.  Bukanlah memberi semua orang dengan yang sama, melainkan memberi setiap orang sesuai dengan kebutuhan haknya.

Tuhan pun menetapkan perintah dan larangan

Do'a Abunawas

Imam Abunawas adalah seorang waliyullah yang hidup pada zaman pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid.  Salah satu do’anya yang terkenal berbunyi : “Tuhanku, aku ini tidak patut menjadi penghuni surga, tapi aku tidak tahan terhadap panasnya neraka.  Karena itu terimalah tobatku, dan ampuni dosa-dosaku.  Sesungguhnya Engkau Dzat yang mengampuni dosa yang besar.”

Pada suatu pagi Abunawas berdiri dihadapan

Tinggalkan yang meragukan

Dalam pergaulan yang amat luas, manusia tidak bisa mengukur sesuatu dengan kriteria hitam dan putih.  Banyak warna yang kabur, tidak jelas hitamnya dan tidak pula putihnya.  Seperti diungkapkan oleh Nabi SAW :

“Yang halal itu pasti, dan yang haram juga pasti.  Namun, diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang meragukan.  Maka barangsiapa jatuh ke dalam perkara syubhat, berarti jatuh ke dalam perkara haram.”

Kemudian, bagaimana sikap kita terhadap

Belajar dari Dzulkarnain

Dzulqarnain adalah seorang yang soleh. Allah menganugerahkan kepadanya kekuasaan duniawi yang amat luas. Allah abadikan kisahnya di dalam Al-Qur'an (QS. 18 : 83-101), tentunya agar kita dapat mengambil pelajaran baik darinya. Rahasia apa gerangan hingga ia dapat mengelola kekuasaannya yang begitu luas dengan keberhasilan, bahkan kemuliaan dari Allah? Paling tidak

Belajar bersyukur

Seorang Ibu terlihat gusar, setelah melihat tumpukan piring kotor di dapurnya. Semua itu bekas makan siang beberapa orang tamu yang baru saja berkunjung. Bukan karena banyaknya cucian piring, tetapi masih terlihatnya potongan-potongan daging bersisa, belum lagi sisa nasi yang masih menumpuk di piringnya. Ah… padahal untuk menyediakan lauk pauk itu tentu si ibu mesti mengeluarkan uang yang